Cerpen perdana ku

Netizen.. kali ini aku mau posting cerpen perdana yang aku buat waktu kelas 1 SMA, dan judulnya aja nggak tau nih, hehee. walaupun masih acak-acakan, semoga tidak membuat kalian boring dan silahkan kasih judul sendiri :D

            Kringg,, kring,, kring,,
            Dentingan alarm seakan-akan mengusik telinga, mengobrak abrik mimpi, serta memaksa untuk mendongkrak kelopak mata agar dapat terbangun. Alarm yang terpajang di atas meja kecil itu merupakan hadiah ulang tahun ku tahun lalu dari kakak. Baru pukul 06.00.
            Alarm itu sengaja ku setel sejak tadi malam sebelum tidur agar aku dapat bangun tepat waktu. Namun sepertinya kantukku semakin menggeliat saja, diluaran sana tetes hujan berguguran seirama di tambah dengan desiran angin yang menyusup lewat celah dinding papan rumah ku yang beberapa tampak renggang membuat aku semakin kencang menarik selimut lusuh warna biru dengan motif bunga kesayanganku sampai batang leher. Serta boneka panda berwarna sedang berukuran hitam putih yang sengaja ku tindihkan di telinga agar ku merasa lebih hangat. 5 menit berlalu, alarm berdering untuk kedua kalinya menandakan aku benar-benar harus bangun. Sambil mata terpenjam ku ambil alarm mungil itu dan memencet salah satu tombol nya agar dering itu berhenti. Dan mulai ku titi lagi mimpi yang telah bersambung tadi, di tengah mimpi tiba-tiba muncul suara yang memekikkan telinga, melebihi dari sambaran petir, dan sontak membuat tubuhku membentuk sudut 90°, mata ku terbelalak kaget. Sudah tak asing lagi suara ibu yang ku dengar setiap pagi itu, sepertinya suara ibu lah yang menjadi alarm sesungguhnya.
“iya bu,, dina sudah bangun”. Sambil sesekali tangan ku sibuk merapikan tempat tidur. Tak terdengar lagi sahutan ibu.
            Kemudian aku membuka ponsel pribadiku, ponsel warna biru dengan gantungan kelinci kecil berwarna pink. Ternyata sedari tadi ada pesan yang belum sempat aku membukanya, kulihat itu adalah pesan dari meisya.
“siap-siap 15 menit lagi aku jemput kamu”
mataku terbelalak hebat, otak ku memaksa kaki untuk cepat berlari ke kamar mandi. Tangan ku sontak menjamah handuk yang menggantung pada paku kecil di belakang pintu kamar. Yaa,, hari ini adalah hari pertama ku bersekolah di SMAN 1 simpang empat, batulicin. Dan juga merupakan hari pertama MOS, tentu untuk moment penting seperti ini aku tak boleh jam karet.
Ketika aku sampai kamar mandi, tiba-tiba hal yang tak ku inginkan terjadi. Perut ku begitu mulas dan aku harus melakukannya.
15 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, meisya datang. Dari rona wajah nya sudah terlihat bahwa dia kesal karena ku belum juga siap, aku segera berlari ke kamar untuk mengenakan baju. Sesekali teriakan nya terdengar menjengkelkan.
“din cepat nanti kita terlambat”,, teriak nya
“iyaa mey,, ini lagi siap-siap.. sabar yaa” sahut ku
Jam sudah menunjukkan jam 6.45, saat ini aku sudah siap total. Aku tak sempat sarapan, dan kemudian aku berpamitan pada ibu untuk berangkat ke sekolah, ibu menahan ku sebentar dan segera lari ke dapur untuk menyiapakan bekal ku, aku pun tak sabar menunggu ibu. Jalan yang ku tempuh sekitar 20 kilometer untuk dapat sampai ke SMAN 1 simpang empat, dengan waktu 15 menit mana mungkin kami dapat sampai dengan tepat waktu. Sepanjang jalan meisya tak berkata sepatah kata pun dengan ku, mungkin ia masih kesal dengan ku. Dan aku pun juga tak bergeming..
Sekarang jam menunjukkan 7.15, kami baru tiba. Semua peserta MOS sudah berbaris rapi di lapangan sejak jam 7.00 tadi, artinya kami terlambat 15 menit. Akibat keterlambatan itu kami disuruh push up 15 kali sesuai lamanya waktu yang telah kami korupsi.. J
Muka ku memerah, aku benar-benar merasa malu atas kejadian ini. Sesekali meisya menatap pada ku seolah-olah menimpakan semua sebab pada ku. Aku hanya tertunduk lesu, oleh kakak pembina kami disuruh berjanji agar besok tidak terlambat lagi.
            Keesokan harinya hangat mentari menyapa pagi indah ku, ku buka jendela kamar dan membiarkan udara segar masuk ke dalam kamar. Sesekali ku regangkan tangan dan merasakan kenikmatannya. Hari ini aku tidak lagi terlambat seperti kemarin. Sebelum meisya datang aku sudah siap segalanya dan tentunya juga sudah sarapan. Ketika ia datang, ia tersenyum melihat ku.
Hari ini proses ajar-mengajar sudah mulai aktif dilaksanakan, aku diposisikan untuk belajar di ruang XF. Sebenarnya aku kecewa, karena meiysa tidak sekelas dengan ku ia duduk di kelas XE. Namun tak apalah kelas kami berdekatan.
Dari kelas 1 SD sampai SMA aku sangat suka duduk di barisan paling depan karena itu aku duduk di barisan paling depan saat ini,meja ku tepat berada di depan papan tulis sehingga mata ku dapat dengan nyaman melihat ke depan, dan jika aku menoleh ke kanan mata ku langsung disuguhkan oleh indahnya pemandangan halaman kelas serta lapangan futsal yang tepat berada di tengah-tengah bangunan ruang kelas yang berjejer rapi. Mata pelajaran bahasa inggris adalah pelajaran pertama yang akan ku tempuh hari ini, sejak SMP aku memang sangat menyukai pelajaran ini. Setelah guru menjelaskan, beliau langsung memberikan test pada kami, test ini tak terduga. Semua buku harus dikumpulkan. Sedari tadi aku kurang memperhatikan karena au masih takjub dengan pemandangan sekitar yang masih asing, dan akhirnya aku mendapat nilai jelek untuk hari pertama ini. Aku begitu kecewa dengan diriku, akhirnya aku berjanji untuk belajar lebih giat lagi. Ternyata kehidupan di tingkat SMA benar-benar memiliki perbedaan mencolok dari tingkat di bawahnya, yaa contohnya saja seperti hari ini. Ahh aku semakin bersemangat saja untuk menjalani lebih jauh yah walaupun di hari pertama saja sudah membuat ku sport jantung.
Setelah beberapa bulan menjalani, akhirnya kami sampai pada ulangan semester. Aku sangat bersemangat menjalani nya. Dan aku mendapatkan hasil ulangan yang baik, ketika pengumuman aku berhasil mendapatkan juara 2 kelas, walaupun tidak menjadi yang pertama tak apa, aku sudah berusaha.
Aku melihat ke atas langit dan sangat bersyukur dapat bersekolah di sman 1 simpang empat.. dan aku janji akan lebih berprestasi lagi. Sebagai hadiahnya, orang tua ku membelikan aku jam weker baru agar aku tidak terlambat lagi. Kami pun tertawa bersama.

Komentar