“2 Hati 1 Cinta” Oleh: Dina Rahmadiani
Sahabat
seperti bintang
Kamu
tidak selalu melihatnya
Tapi
kamu tahu mereka selalu ada.
Sinar mentari di pagi Juli 2013 ini begitu menghangatkan
hati lewat semburat mentari yang dengan lembutnya menampakkan wujud. Pintu
gerbang yang dengan gagah berdiri mulai melebarkan daun pintunya, ya inilah
hari pertama aku akan menginjakkan kaki di kelas XI SMAN 1 Simpang Empat.
Pagi ini aku begitu bersemangat untuk bangun pagi, bahkan
tadi malam pun rasanya aku tak bisa tidur karena membayangkan seperti apa kelas
ku nanti? Siapa teman-teman yang akan berjuang bersama dalam menuntut ilmu? Dan
tentunya siapa yang akan dapat memikat hatiku nantinya? Cieehh..
“Mah.. aku mau mandi,
ntar aku telat. Mama cepet dong di kamar mandinya!!” teriak ku sambil menggedor
pintu kamar mandi.
“Sabar dong sayang,
mama baru juga masuk. Lagian kamu tumben banget pagi-pagi gini sudah mau mandi?
Biasanya……” Jawab mama terpotong.
“ini kan hari pertama
aku duduk di kelas XI mah, aku gak boleh telat dong”. Potong ku
Setelah selesai mandi, aku langsung memakai baju seragam
dan segera berdiri di depan kaca layaknya seorang putri. Tiba-tiba aku
tersenyum sambil membayangkan seperti apa nantinya. Aku bersolek ria dan ketika
sudah dirasa cukup, aku mulai menyalakan kendaraan roda dua yang menjadi teman
sejatiku setiap harinya dalam menapaki jalan mencari ilmu.
Kringggg.. Kringggg…
Bel
telah berbunyi, dan akupun sudah duduk di bangku ku. Aku memilih duduk di
barisan kedua karena kurasa barisan kedua itu adalah tempat yang lumayan aman
daripada di depan. Ditambah lagi aku adalah orang yang kurang pede. Aku melihat
kesekeliling, mereka sudah duduk berpasang-pasangan dengan teman yang mungkin
sudah dikenalnya dari kelas X. sedangkan dari kelas ku dulu hanya ada 3 orang
dan itu pun aku tidak terlalu akrab.
“huftttttt…..” aku
mendesah kecewa karena tidak ada yang mau duduk dengan ku.
Namun tiba-tiba seseorang membuka pintu, dengan tampilan
yang menurutku biasa saja. Dia berdiri sebentar di depan pintu sambil
mengacak-acak rambut, kemudian ia berjalan ke arah ku dan duduk tepat
disampingku.
“boleh kan aku duduk
disini?” Tanya cowok itu.
“ya” jawab ku singkat
tak bersemangat.
Ternyata tak aku sadari, suhu badan ku memuncak. Aku
fikir mungkin ini karena aku kehujanan kemarin sore ketika ke toko buku.
Aku
terus mencoret-coret buku dengan pulpen, inilah kebiasaan buruk ku ketika aku
dalam suasana hati yang tidak baik. Sampai-sampai aku tidak sadar bahwa Bu
Haliza wali kelas baruku sudah memasuki ruangan kelas, aku masih saja
mencoret-coret buku sambil rebahan di lenganku yang kulipat.
“Sania, kenapa
pagi-pagi begini kamu sudah rebahan begitu?” Tanya Bu Haliza dengan heran.
Aku sontak bangun “a a
anu bu, saya tidak apa-apa” seruku tergagap ketakutan.
“apakah kamu sakit Sania?”
Tanya ibu lagi
“ti tidak bu, saya
baik-baik saja”. Jawab ku dengan meyakinkan.
Kemudian cowo yang duduk di sebelah ku itu langsung
menempelkan telapak tangan nya di dahi ku, muka nya menerka-nerka seperti
seorang dokter yang sedang memeriksa pasien.
“Sania, badanmu panas
sekali. Lalu kenapa kamu mengatakan bahwa kamu baik-baik saja?”. Nada cowok itu
begitu khawatir.
Aku tiba-tiba langsung
kehilangan kekuatan berbicara ku, bahkan mata dan badan ku terasa kaku setelah
tangan nya menyentuh dahi ku, dan ajaibnya hal itu dengan mudahnya meronakan
pipiku. aku sungguh kaget dengan perlakuannya.
“Sania, kita harus ke
ruang UKS sekarang. Kamu benar-benar tidak dalam kondisi yang baik”. Ajaknya.
Tiba-tiba ia maju ke meja
guru dan berbicara dengan Bu Haliza, aku juga tidak begitu mengerti apa yang
disampaikannya. Tapi yang kulihat Bu Haliza mengangguk ke arahnya dan kemudian
melirik kearah ku yang terlihat lemah. Aku mengira-ngira dia meminta izin
dengan Bu Haliza untuk membawa ku ke ruang UKS.
“mari Sania, aku antar
kamu ke ruang UKS” dia menarik tangan ku dengan lembut sambil dipapahnya menuju
ke ruang UKS. Dan bodohnya aku menurut saja dengan apapun yang disuruhkannya,
seakan-akan aku sudah terpesona dengan auranya yang tidak ku sangka-sangka.
Di ruang UKS, dia merebahkan ku di kasur empuk. Kemudian
mengambilkan beberapa obat-obatan untuk aku minum.
“ini San, kamu minum
dulu obatnya supaya panas mu menurun” Perintahnya sambil tersenyum.
“Emm.. maaf aku begitu
merepotkanmu, ngomong-ngomong nama kamu siapa? Dan mengapa kamu tau nama ku?”
Tanya ku dengan polos dan heran.
“ckckck.. tak apa. Perkenalkan
nama ku Delvin. Sudah pasti aku tahu nama mu karena Ibu Haliza tadi sudah menyebut
mu” jawabnya terkekeh.
Aku mengernyit,
sebenarnya aku tidak kesakitan hanya saja aku begitu malu dengan kebodohanku
bertanya hal seperti itu kepadanya.
“apakah kamu tidak
masuk ke kelas Delvin? Aku taka apa sendirian disini. Lebih baik kamu kembali,
jika tidak ingin ketinggalan pelajaran”. Seruku.
Kemudian dia merebahkan
badannya di kasur bagian bawah,
“hehe, taka apa. lagian
aku malas belajar kimia. Aku tak suka kimia” celetuknya dengan santai.
“haa?? Apa kamu
bercanda delvin? Jika kamu tak suka kenapa kamu memilih jurusan IPA? Kimia kan
pelajaran pokok??” celoteh ku dengan cerewet.
Tiba-tiba saja aku lupa
dengan demam yang menyerang, seakan-akan kehadiran Delvin disini sudah membuat
ku merasa lebih baik. Padahal aku baru saja bertemunya pagi ini, inilah sifat
buruk ku lagi. Aku sangat cepat jatuh cinta kepada seeorang yang bisa memperhatikanku
dengan lebih dan membuatku merasa nyaman. Padahal belum tentu Delvin menyukai
ku hanya karena ia mengantarkan ku ke UKS pagi ini.
“entahlah” jawabnya sambil
mata menerawang ke atas.
“ohh baiklah, Delvin
lebih baik kamu kembali. Aku tidak ingin orang berfikiran negatif jika melihat
ada pria dan wanita hanya berdua di dalam ruangan UKS. Aku benar baik-baik saja
sekarang, kamu bisa meninggalkanku”. Jawabku dengan pede.
Delvin hanya tersenyum
“baiklah”.
***
Aku
menerawang kosong sambil memainkan sedotan minuman ku di bangku taman sekolah,
dan kadang sudut-sudut bibir ini saling tertarik. Ternyata Adina memperhatikanku
dan mulai mendekatiku secara perlahan.
“Sania!!” tiba-tiba Adina
sahabatku mengagetkanku dari belakang.
“a a ahh apa apaan sih,
aku kaget tau” seruku
Hampir saja minumanku
tumpah, dan jika tumpah sudah pasti akan membasahi baju seragamku. Untungnya
tangan ku masih cekatan untuk menahan lajunya.
“hayooo kamu lagi
ngapain sendirian disini?” tanyanya dengan heran.
“ah tak apa, aku hanya
duduk menikmati angin disini sambil menyeruput jus mangga kesukaanku” alibi ku
dengan datar.
“ya ampunn Sania,
gelasmu itu sudah kosong. Apanya yang mau diminum?” saat ini dia mulai semakin
cerewet menanyaiku.
“jangan-jangan….”
Terkanya sambil menggoda
“Apa apaan sih Din,
jangan berfikiran negatif deh”
Adina memang sahabatku
dari SD, wajar jika dia hapal gelagat ku jika sedang merasa jatuh cinta. Namun
sayangnya saat kelas XI ini aku tak sekelas dengannya. Aku di IPA 1 sedangkan
dia di IPA 3.
“San, tadi ketika aku
mencarimu ke kelas. Mereka bilang dari tadi pagi kamu tidak ikut pelajaran
karena sakit, kamu sakit apa??” tanyanya khawatir.
“Cuma demam biasa ko Adina
sayang, jangan terlalu khawatir begitu ahh” jawab ku terkekeh.
“dan mereka bilang kamu
diantar seorang cowok ya ke UKS nya?? Godanya.
“bukan siapa-siapa,
hanya teman. Lagian dia hanya mengantarkan saja karena dia khawatir” jawabku
dengan gugup.
“Saniaa, muka mu merah
tuh. Cieee siapa sih cowoknya? Kok sampai membuat temanku ini begitu salah
tingkah??” godanya sambil menyubit pinggangku..
“aww.. bel udah bunyi
tuh. Ayo balik ke habitat masing-masing” kilah ku sambil berjalan
meninggalkannya .
“Saniaaa, tungguuuu” dengan
manjanya
Aku cuma terus berlari
sambil tertawa agar dia tak bisa mendapatkanku, Adina memasang muka cemberut
pada awalnya dan kemudian kami tertawa bersama-sama lagi sambil memasuki kelas.
Ketika aku masuk, mata Delvin
sudah mengarah pada ku dan tiba-tiba senyumnya mengembang. Aku berjalan pelan
karena begitu canggung sejak kejadian tadi pagi.
“apakah kamu sudah
baikan Sania? Tanya Delvin
“iya Vin, aku sudah
merasa lebih baik kok. Makasih ya atas bantuanmu” jawabku sambil tersenyum
Semua teman-teman cewek
di kelas ku mengarahkan matanya kepada ku, seakan-akan mereka tidak terima aku
diperhatikan Delvin.
Kemudian aku bergeser
duduk ke sebelah Neneng, dan bertanya
“Neng, Delvin itu siapa
sih? Dan mengapa cewek-cewek itu mempelototiku dengan kejam setelah Delvin
mengantarku tadi?” Tanya ku heran
“ya ampun Saniaa,, kamu
tidak tau siapa Delvin?” nadanya meninggi karena heran dengan keluguanku.
“memang siapa dia?”
korek ku lagi.
“Sania, kamu sudah satu
tahun belajar disini dan tidak tahu siapa Delvin?? Sungguh terlalu” ejeknya.
“sudah nanti saja kamu
mengejeknya lebih baik kamu beri tau aku dulu” pintaku
Dalam hati aku agak
merasa heran juga dengan penyakit cuek dengan keadaan sekitar ku yang akut ini,
aku hanya peduli dengan dunia ku tanpa peduli lagi yang lain. Sampai-sampai Delvin
saja aku tak tahu. Aku menggaruk-garukkan kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Delvin itu adalah
laki-laki tampan yang banyak dikejar-kejar cewek se-SMA ini, selain itu dia
juga anaknya pengusaha batu bara yang terkenal itu. Wajar saja kamu mau dilahap
oleh fans-fansnya delvin jika kamu berani menggoda Delvin.” Cetusnya dengan
nada mengerikan.
Kemudian aku melongo
mendengar kisahnya, setelah itu badanku bergidik memikirkan hal tersebut.
***
Tulilit tulililit
tulilililit.…. Hape ku berdering tanda ada pesan. Kemudian aku membuka kunci
layarnya ternyata itu adalah nomor yang tidak ku kenal.
“Hai. Sania kan?” isi
pesan tersebut.
Aku memandangnya
sebentar, kemudian meletakkannya lagi di meja. Aku memang cuek dengan hal-hal
seperti itu, maka dari itu aku hanya mempunyai sedikit teman.
Setelah itu aku
melanjutkan menulis cerpen untuk ku kumpul besok pagi di sekolah. Sebenarnya pesan
tadi sudah cukup membuyarkan imajinasi yang telah aku susun. Tapi aku mencoba
untuk melanjutkan dan merangkai imajinasi lagi di istana berfikirku.
Tulilit tulililit
tulilililit….. hape ku berdering lagi, dan yang satu ini benar-benar telah
membuyarkan imajinasiku.
“Sania, mengapa kamu
tidak membalas pesan ku? Apakah aku menggangu??” isi pesan kedua.
Kali ini aku
benar-benar greget, dan kemudian aku mulai mengetikkan kata demi kata di layar
ponsel.
“kamu siapa sih? Dari
awal kamu tidak menyebutkan namamu itu sudah sangat menggangu untukku. Jika
kamu ingin kenalan, silahkan sebutkan namamu atau jangan pernah menghubungi
nomerku lagi!!” tulisku
“ckckckck.. Sania kamu
cuek banget ya, bener kata mereka. Iya deh iyaa, aku Delvin.” Balasnya.
Aku benar-benar
tercengang melihat isi pesan itu, aku merasa bahwa aku sedang bermimpi saat
ini. Tidak mungkin seorang Delvin menghubungi aku. Apa yang membuatnya menghubungiku? Aku benar-benar merasa ingin
melayang dihubungi oleh orang yang membuatku jatuh cinta hanya dalam waktu 3
detik ini. Kemudian aku beranjak ke temapt tidur, aku benar-benar bingung harus
membalas apa? Setiap kata-kata yang sudah ku ketikkan ku hapus berulang kali.
Akhirnya hanya kata-kata ini yang dapat ku kirim.
“oh Delvin, ada apa Vin?
Jawab ku sebiasa mungkin.
Aku benar-benar tidak
sabar menunggu balasannya.
Tulilit tulililit
tulilililit…..
Hape ku berdering lagi.
Aku benar-benar bersemangat membuka sms ini. Ternyata itu adalah sms dari Adina
yang isinya bahwa dia akan ke rumah ku malam ini.
Aku membalasnya dengan
kecewa dan memperbolehkannya kerumah. Tapi dari isi sms Adina, dia seperti
sedang sedih dan butuh teman curhat.
“Sania, ini Adina cepet
suruh dia masuk ke kamar” teriak mama.
Kemudian aku keluar
menjemput Adina, dan terlihat bahwa matanya sperti bengkak habis menangis. Dia
masuk ke kamar kemudian berbaring di kasur ku, Adina memang sudah biasa ke
rumah jadi dia menganggap rumah ku ini seperti rumahnya. Lalu aku duduk di
samping Adina dan menanyakan apa yang terjadi. Adina langsung memeluk ku dan
menangis di bahu ku. Aku semakin bingung dan bertanya-tanya.
“ada apa Din? Apa yang
terjadi? Coba ceritakan padaku”.
Kemudian dia melepaskan
pelukannya dan mulai menceritakan sebab dia menangis.
“San kamu tau kan kalo
aku suka sama seseorang cowo sudah lama banget, dan sekarang aku dengar bahwa
dia sedang dekat dengan seseorang. Dia itu benar-benar susah dekat dengan
seseorang maka dari itu aku menganguminya.” Isaknya
“Memang siapa laki-laki
itu Din?” tanyaku heran.
Belum sempat ia
menjawab, tiba-tiba hape ku berdering tanda ada panggilan masuk. Ketika kulihat
ada nama Delvin dilayar.
“iya Vin ada apa
menelpon? Tanyaku
“Tak apa San, apa kamu
sibuk?”
“Tidak juga Vin, aku
hanya bersantai dengan Adina”
“Oh ya? Sebenarnya aku
mau mengajak mu keluar malam ini”
“Keluar Vin? Kemana”
“Kemana aja deh”
“Maaf Vin tapi aku
sedang bersama sahabatku”
“Oh oke mungkin lain
kali”
“Baik Delvin, tutup ku”
“Apaaaaa???? Delvin?
Maksud mu Delvin siapa?” Nada Adina meninggi.
“Haa.. itu Delvin yang
satu kelas dengan ku Din. Ada apa?” jawabku polos.
“Kamu tau gak sih kalo Delvin
itulah cowo yang aku suka selama ini. Kamu jahat Sania, ternyata kamu yang merebut
Delvin dari ku.”
“Apa maksud mu Adina?
Aku benar2 tidak mengerti. Apakah kita menyukai orang yg sama??”
“Mungkin begitu” jawab
Adina datar.
“Jangan marah Din, aku
benar-benar tidak tahu kalau yang kamu maksud itu adalah Delvin. Kalau aku tau,
aku tak akan pernah membiarkan rasa ini tumbuh.”
“Yasudahlah kalau
begitu kamu saja yg bersamanya, aku rela karena sepertinya dia lebih
menginginkanmu” Adina mengumpulkan kekuatannya
“Tidak Din, jika ini
menyangkut hati kita berdua maka kamulah yang berhak” seruku dengan lirih.
“Tidak San, kamu saja.
Aku sudah terlanjur sakit hati”.
“Jika kamu seperti itu
lebih baik kita tak usah saja dengan dia, aku lebih rela kehilangan orang yg
aku suka daripada sahabatku sendiri” jawab ku.
“Makasih ya San, aku
benar-benar beruntung punya sahabat seperti kamu.
Kemudian
aku mengambil hape dan menulis pesan untuk Delvin agar tidak menghubungi ku
lagi sebagai seseorang yang suka. Awalnya Delvin bertanya heran tapi aku
menjelaskan dengan rinci. Untungnya Delvin paham dengan yang kumaksud. Sejak
saat itu aku selalu terbuka dengan sahabatku, jika ada apa-apa selalu berbagi
sehingga tidak akan terjadi lagi hal hal seperti ini. Meskipun hati kami sakit,
namun rasa solidaritas pertemanan tetap menjadi yang utama. Aku tidak ingin
pertemanan ku hancur hanya karena seseorang cowok yang kami sukai bersama. Dan
akhirnya aku, Adina, dan Delvin menjadi sahabat yang sangat dekat.
Aku ingin menjadi
bintang untuk seorang sahabat.
Tak sebesar rembulan.
Namun selalu ada
mengitarinya.
Komentar
Posting Komentar